Penghidup Semestaku
''Hidup tuhan akan hidup hingga manusia tiada"
-Jong Dalolu-
Di saat makhluk tuhan yang sempurna melangsungkan penghidupannya mereka seakan tau hidup yang paling indah adalah selalu berada pada keromantisan dan percintaan dan tentunya ketenangan yang hakiki, kemudian makhluk tuhan ini pun sangat mengharapkan kebaikan yang selalu menemani cinta dan kasih diantara makhluk-makhluk yang selalu memberikan sebuah penghormatan, diantara sela-sela rimba yang selalu dengan senyum memberikan ungkapan keromantisan cinta, lalu dengan angan-angan maklhuk sempurnah ini pun, di guyur dengan rautan-rautan yang selalu terus-menerus menerkam dari musim-kemusim dengan penuh cinta, dengan aura-aura positif dan tidak lepas dengan aura-aura negatifnyapun selalu datang silih berganti.
Sewaktu di saat fajar datang dengan sebuah senyuman tanpa ada kusam di kening makhluk anak bumi sebelum itu senyum cerah sudah memberi isyarat dan terpatri dalam naungan kesenangan dan kegembiraan, di saat anak bumi ini semakin besar dan juga mulai terpancar sebuah pesona dari penghidupan terbentuk walau desiran angin dan berbauan debu yang melintasi kening dan rautan wajah yang bergelombang seketika merekapun merasa sangat senang.
Ketika semesta mulai bercakap dengan indah bersama kaum-kaum yang telah tercipta dari pepohonan yang berbuah dengan kasih sayang selalu terus memberikan keturunan dengan biji-biji keikhlasan kasih sayangnya, namun seketika bumi terdiam dengan raut wajahnya bergemetar, lautanpun bergelombang semakin deras dan desiran angin tak seperti biasanya dan sikapnya yang cerah terlihat tak seperti biasanya karangpun seakan enggan untuk berpindah dari kondisi ini dia hanya diam di tempat dan melihat dengan raut yang datar di dalam rimbapun telah berguguran dedaunan yang tak kuat menahan laju angin yang datang seperti buah-buahan dan sejenisnya.
Tak tahan dengan keguncangan ini meskipun tak sedahsyat gempa dengan kekuatan tektoniknya makhluk-makhluk kecil ini terguncangkan seketika rautan wajah yang bergelombang menjadi hitam dan pekat dan ternyata akan ada air mengalir dari atas mahkota yang gagah perkasa itu dengan seutas benang mencoba untuk memberikan isyarat untuk melerai dan memberikan sebuah pengetahuan kepada makhluk-makhluk sempurna itu.
Dan kemudian membentag diantara jalan-jalan setapak yang terlihat kaku dengan pondasi yang juga dalam kondisi basah dan becek namun isyarat diantara utasan-utasan benang itu tak membuat raut yang pekat itu pergi, dan ternyata air-air yang berjatuhan dari mahkota yg mulia tadipun telah habis dan berlalu namun raut yang bergelombang tak bisa hilang begitu saja ketika selepas dari jejak-jejak air yang berjatuhan, setelah mulai redah dengan teriakan dari makhluk-makhluk di sekitaran rimba-rimba yang masih melekat pekat rasa cinta dari makhluk-makhluk pada pepohonan, dan rautan yang hitam dan pekat telah beranjak pergi karena telah muncul secercah kehangatan cinta yang di harapkan sebelumnya.
Adapun bekkas jejak yang di laluinyapun seperti tak pernah dilupakan meski telat di tutupi dengan air yang mengalir dari atas mahkota mulia itu dan juga di terjang angin dari segala penjurupun tak bisa membuatnya melupakannya dan kemudian ketika sudah mulai cerah dan rautan hitam pekat berubah menjadi kekunig, kebiru-biruan dan ternyata ada senja yang telah lama menunggu di balik tergangan air diantara rimba-rimba, diatas mahkota dan di segala penjuru,
Sekali lagi dengan sebuah kehadiran dari keindahan yang mewakilkan cita-cita cinta yaitu romantisme cinta kasih dari setiap langkah yang ingin di susuri pada jalan setapak diantara rimba-rimba, makhluk diantara rimba yang berpohon dengan kedewasaan, memang senja datang setelah hitam pekat melanda, ketika senja-pun menemukan keemasan jingganya maka diapun siap untuk tertidur dan ingin sekali memutar kembali kejadian yang telah dia lalui dengan keadaan tidur dalam mimpi yang sudah nyata dan terus terbayang darinya.
"Dino"
Masih membekas 3:16 am
Masih membekas 3:16 am

Komentar
Posting Komentar